Senin, 17 November 2014

Industri ramah lingkungan di Aspek Pertanian

Industri Ramah Lingkungan di Aspek Pertanian
oleh:
Bhekti Dwiyanto

            Pertanian merupakan salah satu sector penting dalam kehidpuan masyarakat di Indonesia. Sector ini sangat bergantung  pada kondisi alam dan factor teknis atau tindakan-tindakan yang dilakukan petani selama proses budidaya. Hal ini menutnntut adanya inovasi-inovasi dari pengusaha atau petani dalam bercocok tanam dengan tetap mempertahankan kelestarian alam.
            Penggunaan bahan kimia dengan dosis yang tinggi dan jangka waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya akumulasi residu bahan kimia di dalam tanah dan  akan berpotensi mencemari lingkungan. Dampak lain yang timbul sebagi dampak langsung dari penggunaan bahan kimia ini adalah menurunnya kualitas tanah yang berdampak pada berkurangnya keragaman hayati dan musuh alami organisme pengganggu tanaman serta munculnya hama-hama resisten. Karna hama-hama akan dapat beradaptasidengan bahan-bahan kimia terentu dan akan membuat petani menambah zat kmia lebih banyak untuk membasmi hama tersebut.
            Dampak negative dari penggunaan bahan kimia ini pada lingkungan dapat dilihat dari keadaan tanah pada lahan pertanian yang makin lama makin keras struktrur tanahnya sehingga makin sulit untuk diolah. Akibatnya petanimembutuhkan input pemupukan yang semakin banyak agar produksi tetap dapat dipertahankan. Keadaan ini menyebakan petani juga harus meningkatkan biaya produksi. Selain itu dampak lainnya yaitu menurunnya jumlah biota tanah karna penggunaan bahan kimia yang juga mengakibatkan kesuburan tanah berkurang.
            Penurunan kualitas lingkungan dan pencemaran terhadap produk-produk yang dihasilkan karna penggunaan bahan kimia yang berlebihan hal ini terjadi karna kurangnya informasi yang didaptkan oleh petani tentang cara bercocok tanam yang baik.. Akibatnya banyak komponen yang sebenarnya bermanfaat terbuang tanpa disengaja dan komponen yang berbahaya justru dipertahankan.
            Perkembangan dunia pengetahuan yang sangat pesat dan kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan sehat menghendaki produk-produk pertanian yang bebas dari residu dan bahan kimia. Hal ini mendorong upaya-upaya untuk menghasilkan inovasi-inovasi dalam mengembangkan teknik budidaya pertanian yang bertujuan untuk menghasilkan produk-produk pertanian berkualitas yang sangat bagus tanpa mengesampingkan keselarasan lingkungannya.
            Pemanfaatan bahan-bahan alami lokal di sekitar lokasi pertanian seperti limbah produk pertanian sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik seperti kompos sangat efektif mereduksi penggunaan pupuk kimia sintetis yang jelas-jelas tidak ramah lingkungan. Demikian juga dengan pemanfaatan bahan alami seperti tanaman obat yang ada untuk dibuat racun hama akan mengurangi penggunaan bahan pencemar bahaya yang diakibatkan pestisida, fungisida, dan insektisida kimia.
             Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik, selain akan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul akibat pemakaian pupuk kimia yang berlebihan. Di samping itu, banyak mikroorganisme di alam yang memiliki kemampuan mereduksi dan mendegradasi bahan-bahan kimia berbahaya yang diakibatkan pencemaran dari bahan racun yang digunakan dalam aktivitas pertanian konvensional seperti racun serangga dan hama.
             Dengan kemajuan teknologi, pertanian organik adalah pertanian ramah lingkungan yang murah dan berteknologi sederhana (tepat guna) dan dapat dijangkau semua petani di Indonesia. Serangga hama dan musuh alami merupakan bagian keanekaragaman hayati. Serangga hama memiliki kemampuan berbiak yang tinggi untuk mengimbangi tingkat kematian yang tinggi di alam.
            Keseimbangan alami antara serangga hama dan musuh alami sering dikacaukan penggunaan insektisida kimia yang hanya satu macam. Pertanian organik bukan hanya baik bagi kesehatan, tetapi juga bagi lingkungan bumi.
            Pertanian organik adalah pertanian yang ramah lingkungan. Artinya, pelaku sistem pertanian organik telah berusaha tidak merusak dan menganggu keberlanjutan komponen-komponen lingkungan yang terdiri atas tanah, air, udara, tanaman, binatang, mikroorganisme, dan tentunya manusia.
Beberapa hal positif dari usaha pertanian organic ini adalah :
1.      Berkurangnya pencemaran lingkungan lingkungan akibat penggunaan dari bahan kimia yang berlebihan
2.      Organisme-organisme pembasmi hama alami akan tetap ada
3.      Terjaganya keragaman hayati
4.      Produk yang dihasilkan jauh lebih aman untuk dikonsumsi
5.      Harga jual produk yang cukup menguntungkan untuk petani
6.      Masyarakat yang sadar akan pentingnya hidup sehat mulai berkembang sehingga pasar untuk hasil pertanian untuk bahan-bahan pangan organic semakin luas.
           

            Dari contoh-contoh positif diatas sudah dapat kita lihat betapa menguntungkannya pertanian organic ini. Menguntungkan bagi lingkungan karan dengan bertani organic tidak ada limbah pertanian yang akan membayakan lingkungan. Menguntungkan untuk petani karna harga jual untuk produk pertanian organic cukup mahal dan modal yang dikeluarkan petani cukup murah karna untuk pupuk, pembasmi hama dan lain-lain bias didapatkan langsung  dari alam. Dan menguntungkan bagi masyarakat atau konsumen karna dengan mengonsumsi makanan organic akan menghindarkan kita dari bahaya-bahaya zat kimia yang terdapat pada makanan anorganik.

Tugas 8 Ilmu Lingkungan


Minggu, 09 November 2014

Artikel kandungan Zat Kimia Pada Makanan

Kandungan Zat Kimia dalam Makanan Ini Perlu Diwaspadai

Berikut beberapa zat kimia makanan yang berpotensi menimbulkan bahaya bagi kesehatan. Perlu Anda waspadai.

Ilustrasi makanan kemasan (Thinkstock)
Tak mengherankan bila Anda tak banyak tahu zat apa saja yang masuk dalam perut melalui makanan setiap hari. Begitu banyaknya makanan yang ditambah zat kimia atau bahan tambahan pangan (BTP) membuat Anda kerap tak lagi waspada. 
Padahal zat kimia, lemak trans, gula, dan garam berpotensi merusak kesehatan bila kadarnya melewati batas yang ditentukan.
Sayangnya zat tersebut kini sudah digunakan hampir di seluruh makanan. Termasuk makanan yang dipertimbangkan sehat, seperti ikan atau beras. Berikut beberapa zat kimia yang berpotensi menimbulkan bahaya bagi kesehatan yang perlu Anda waspadai.

1. Nitrat

Zat ini biasa digunakan untuk mempertahankan warna dan aroma pada daging, ikan, berserta produk olahannya. Penelitian Harvard pada 2010 membuktikan 1,8 ounce asupan daging olahan per hari dapat meningkatkan risiko serangan jantung hingga 42 persen dan penyakit diabetes tipe 2 hingga 19 persen.

Pada riset ini menggunakan hewan, peneliti membuktikan nitrat mengakibatkan pengerasan pembuluh darah dan menurunkan toleransi pada gula. Menurut American Cancer Society, nitrat juga diketahui sebagai penyebab kanker pada hewan. Meski begitu, dampak buruk belum diketahui pasti apakah juga terjadi pada manusia.

Untuk menurunkan risiko terkena penyakit tersebut, sebaiknya hindari terlalu sering mengkonsumsi daging olahan seperti sosis,
 bacon, burger dan sejenisnya. Peneliti Harvard menyarankan, batasi konsumsi daging olahan cukup sekali seminggu untuk meminimalkan risiko.

2. Merkuri
Sushi. (Thinkstock)


Ketakutan pada merkuri menyebabkan banyak orang menolak konsumsi ikan laut. Padahal dengan kandungan asam lemak omega 3, hidangan ikan tidak layak dilewatkan.

Pemerintah Amerika bahkan mengeluarkan peringatan pada kelompok berisiko, misalnya wanita hamil, menyusui, dan anak, untuk menghindari beberapa jenis ikan dengan kadar merkuri tinggi.
 

Keracunan merkuri mengakibatkan kebingungan, minim koordinasi gerakan, berkunang-kunang, lemah otot, dan mengganggu perkembangan saraf pada anak. Environmental Protection Agency (EPA) memperingatkan, "Derajat paparan merkuri bergantung pada jumlah dan jenis ikan yang dimakan. Kunci penting kesehatan per individu bergantung pada pola konsumsinya masing-masing."

3. Bisphenol A (BPA)

BPA ditemukan dalam makanan kaleng dan berwadah plastik. Biasanya orang terkespos BPA melalui pola makan. BPA bisa bercampur pada makanan dan minuman, saat wadah tersebut dipanaskan.

Menurut National Institute of Environmental Health Sciences, BPA merupakan pengganggu endokrin dan berperan penting dalam mengganggu keseimbangan hormon, hingga menyebabkan kanker payudara dan prostat. BPA juga berperan dalam jumlah sperma yang rendah, masalah tingkah laku, obesitas, diabetes tipe 2, dan daya tahan tubuh yang lemah.

Menurut toksikologis Patricia Rosen, BPA menimbulkan ancaman kecil dalam jumlah sedikit. Namun paparan yang terus menerus akan meningkatkan faktor risiko. Sebagai pencegahan, Rosen menyarankan untuk membatasi konsumsi makanan kalengan dan tidak memanaskan hidangan dalam wadah plastik.

4. Arsenik

Di Amerika, arsenik ditemukan secara alami dalam air tanah. Ketika arsenik anorganik dalam jumlah cukup besar masuk ke dalam air atau tanah pertanian, maka air yang diminum dan tanaman yang dihasilkan berbahaya bila dikonsumsi.

Menurut juru bicara American Academy of Nutrition and Dietetics, Heather Mangieri, arsenik dalam air sejauh ini belum menimbulkan masalah. "Populasi yang harus diawasi adalah mereka yang banyak mengkonsumsi nasi," kata Heather.

Pengawasan ini dilakukan atas bayi yang makan sereal, vegan dengan sayurannya, dan penderita celiac disease yang tidak boleh terlalu banyak makan padi-padian. Tips menghindari arsenik bagi yang mengkonsumsi beras adalah, pastikan beras sudah dicuci bersih dengan perbandingan saat memasak adalah 6 gelas air untuk 1 gelas beras.

5. Pewarna buatan

Riset yang dipublikasikan
 The Lancet pada November 2007 menemukan adanya "efek yang merugikan" pada anak usia 3, 8, dan 9 tahun dari minuman serta makanan yang menggunakan pewarna buatan. Riset yang dilakukan peneliti asal Southampton University ini menemukan, kecanduan pewarna buatan meningkatkan hiperaktivitas pada anak.

Sebuah meta-analysis yang diterbitkan  American Academy of Child and Adolescent Psychology pada Januari 2012 juga menemukan adanya hubungan, antara pewarna buatan dengan ADHD
 (attention deficit hyperactivity disorder).  Riset tersebut memperkirakan 8 persen anak dengan ADHD memiliki gejala yang berhubungan dengan pewarna makanan. Namun hasil ini masih membutuhkan riset lanjutan.

Untuk mencegah paparan pewarna buatan pada anak, orangtua sebaiknya membatasi makanan yang menggunakan pewarna. Akibat yang merugikan ini meyakinkan Eropa melalui Food Standards Agency, untuk melarang penggunaan sejumlah pewarna buatan antara lain Blue Dye No. 1 dan Yellow Dye No. 5.
(Rosmha Widiyani, KOMPAS.com)